La Tansa, 14/01/2012
Seni sejatinya suci, kreatifitas seni adalah potensi tak ternilai harganya, apresiasi atas seni adalah upaya mulia, selain mengindahkan wajah dunia seni jelas bernilai materi yang besar manfaat ekonominya, dari rahim seni lahirlah mahakarya, maha karya yang menyumbang ragam peradaban dunia. Itulah kiranya mengapa Pondok Pesantren La Tansa begitu memberikan ruang gerak kesenian yang besar, sehingga banyak perhelatan kesenian yang digelar, baik dari kalangan dengan berbagai jenisnya maupun dari dewan guru yang baru-baru ini dilaksanakan yaitu MG Show. Di kalangan santri banyak ragam pagelaran seni di antaranya adalah pagelaran seni yang digelar oleh santri kelas enam, lazim disebut dengan Nihai Show. Nihai Show adalah pagelaran seni yang digagas dan dilaksanakan oleh santri kelas enam, sebagai ajang apresiasi, penyaluran dan pengembangan bakat seni yang dimiliki oleh santri kelas enam dengan berbagai jenisnya.
Meski beberapa hari ini La Tansa diguyur hujan dengan intensitas yang cukup sering hampir di setiap waktu; namun alhamdulillah pelaksanaan Nihai Show dapat berjalan. Dengan memakan waktu selama 2 malam; Jumat malam dan sabtu malam (13-14 Januari 2012) Nihai Show pun digelar di Aula Pondok Pesantren La Tansa disaksikan seluruh santri, dewan guru, para alumni, para wali santri terutama wali santri kelas enam, yang sudah sejak sehari sebelumnya (Jumat, 12/01/12) ) sudah berdatangan, tidak sedikit dari masyarakat sekitar pun ikut menyaksikan ‘hajatan tahunan’ santri kelas enam ini.
Pemimpin pondok, KH. Adrian Mafatihullah Kariem, MA dalam sambutannya mengatakan bahwa manusia memiliki potensi rasa dan seni, Nihai Show adalah ajang tepat untuk melatih olah rasa dan olah seni santri, khusunya kelas enam. Beliau berharap, semoga dengan potensi seni yang dimiliki dan terus dikembangkan ini santri La Tansa mampu menjadi generasi bintang yang indah dan memberikan keindahan dalam kehidupan masyarakat. “Keindahan tutur kata, keindahan lahir, keindahan bathin, keindahan sikap, keindahan budi pekerti, dan keindahan karya”, tuturnya.
Di setiap Nihai Show yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh setiap santri kelas enam, selalu lahir pagelaran seni yang kreatif, inovatif dan menghibur, ide-ide kreatif itu selalau muncul di setiap generasinya, mengalir deras seakan tak pernah habis. Tema-tema pun selalu fresh dan membumi sesuai konteks yang sedang hangat di tengah kehidupan masyarakat, bukan dalam kontek lokal-kelatansaan saja namun dalam konteks kebangsaan dan keumatan yang domainnya luas. Seperti tema yang diusung untuk Nihai Show santri kelas enam tahun ini, temanya sangat bernilai kebangsaan yaitu “Kenali Negerimu, Cintai Tanah Airmu Indonesia”. Menurut salah satu pembimbing Nihai Show Ustz Rosyda tema ini diangkat untuk menguatkan rasa dan tanggung jawab kebangsaan santri sebagai bagian dari generasi bangsa yang harus mengenali berbagai potensi, terutama potensi seni dan budaya serta mencintai tanah airnya.
Tema tersebut nampak terlihat dalam ragam penampilan, dekorasi panggung, dan kostum yang dikenakan oleh santriwan dan santriwati kelas enam. Di acara yang dimulai pukul 20.15 wib dan berakhir pukul 00.15 wib ini kelas enam putra menampilkan pertunjukan gamelan, band, dangdut, klanting, orkestra, akrobat, guitar hero, pantomim, Indonesia menari; yang di antaranya menampilkan tari Musyoh papua , dan tari topeng Betawi, dan folk song, tak ketinggalan marawis dan qasidah yang merupakan kesenian musik khas pesantren. Sejarah kenusantaraan pun diangkat dengan menampilkan drama tentang Angling Darma yang menceritakan perjalanan hidup seorang raja di tanah Jawa bernama Angling Darma. Diceritakan bahwa Angling Darma merupakan seorang raja dari kerajaan Mlowopati. Kerajaannya yang makmur serta sifat-sifatnya yang adil dan belas-asih kepada rakyatnya. Beristerikan Dewi Setyowati puteri Begawan Maniksutra yang tak lain adalah gurunya.
Sementara kelas enam putri menampilkan qasidah, harmoni tradisional-modern, yang menampilkan permainan alat musik tradisional dan modern yang dipadu secara harmoni, sehingga menghasilkan suara musik yang baru. Mereka juga menampilkan puisi, fashion show batik nusantara yang menampilkan bebrapa ragam corak dan disain batik nusantara.Kisah perjuangan Cut Nyak Dien pun diangkat dengan menampilkan drama tentang Cut Nyak Dien yang disambung dengan nyanyian gugur bunga untuk menghormati gugurnya pahlawan Nasional Cut Nyak Dien yang dalam drama itu digambarkan perempuan yang lahir di Lampadang Provinsi Aceh tahun 1850 itu gugur di pengasingan di Sumedang Jawa Barat 6 November 1908. Beberapa tarian nusantara pun ditampilkan oleh santri kelas enam putri, di antaranya tari Jangget dari lampung, tari topeng dari Betawi, dan tari merak dari Jawa Barat. Baik penampilan kelas enam putra maupun putri semuanya dikemas dalam bingkai budaya dan semangat kebangsaan untuk mengenal negeri dan mencintai tanah air Indonesia.
Suasana batin kebangsaan dan semangat kebinekaan begitu terasa di setiap penampilan Nihai Show kali ini, begitulah kesan yang terlontar dari istri Kiyai Adrian Ustz. Khaerun Nisa yang malam itu mendampingi beliau bersama putra putrinya menyaksikan Nihai Show. Saat ditemui seusai acara, Ustz Rosyda mewakili para pembimbing menyampaikan pesan kepada santri kelas enam untuk terus mengali potensi dan tidak mudah puas dengan pencapaian saat ini. “Karena hidup tidak hanya hari ini saja, hari esok masih menanti”, pungkasnya. JRD.

