Jakarta – Histeria putra putri LTC membahana setelah panitia mempersilakan unitnya ikut berlaga kembali di babak final pertarungan Grand Prix Marching Band (GPMB) hari ini di Istora Senayan, Ahad 27 Desember 2009 pukul 10.00 WIB. Sebagaimana dilansir situs gpmb.org, hasil dari babak penyisihan Sabtu kemarin (26/12), lima dari sembilan peserta devisi sekolah disaring untuk masuk ke babak paling menentukan itu, salah satunya marching band pondok pesantren La Tansa (La Tansa Corps). Semua peserta mewakili berbagai sekolah di tanah air, diantaranya: La Tansa Corps Banten , Gema Snada Budiniyah Bogor, Sadaluhung Padjajaran Bandung, Smansa Manggala Dara Bali, Korps Putri Tarakanita Jakarta, SMA Pusri Palembang, Bahana Sparada Balikpapan, STTD Drum Corps Bekasi, dan BCK Duri Dumai.
Direktur PP IPTEK: “Ujian (sejenis UN, red) di Malaysia tidak menjadi syarat kelulusan, ujian hanya dijadikan sebagai instrumen untuk membuat peringkatan saja..."
La Tansa_14/10/10
Banyak hal yang menarik dari Workshop Science Club Development yang diselenggarakan Pusat Peragaan IPTEK (PP IPTEK),TMII Jakarta Kamis 14 Oktober 2010. Salah satu yang cukup menarik penulis dari workshop yang diikuiti oleh para guru SD, SMP, MTs, MA dan SMA se-Jabodetabek dan Banten ini adalah paparan Direktur PP IPTEK Drs. Sukro Muhab, M.Si. yang menjadi pembicara untuk sesi Opening Ceremony. Pada kesempatan itu Sukro memaparkan materi tentang “Pendidikan dan Tantangan Masa Depan”. Secara makro, Sukro membahas tentang tantangan dunia pendidikan di era globalisasi kiatannya dengan upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menyampaikan sedikitnya ada 3 hal yang menjadi tantangan dunia pendidikan di Indonesia yaitu, kesenjangan kemajuan teknologi dengan dunia pendidikan, prestasi pendidikan kita tertinggal dan isu global pendidikan. Bagi beberapa kalangan ketiganya mungkin bukanlah wacana yang baru, namun kami melihat perlu untuk menjadi salah satu bahan pemikiran.
Datok Sinaro Pandjang dan Kiyai Mumtaz
Oleh Irman Sulaiman Fauzi
Beberapa hari yang lalu saya bersama seorang teman menghadiri sebuah seminar nasional di markas DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) Kramat Raya Jakarta Pusat. Karena acara dimulai jam 8 pagi dan jauhnya jarak yang harus ditempuh, kami pun bergerilya menyusuri ruas jalan lintas provinsi Banten-Jawa Barat menuju kos-kosan kawan di kota Bogor untuk sekadar transit. Esoknya paginya kami bergegas ke stasiun kereta. Alasannya klasik, selain praktis, moda transformasi massa yang realatif murah itu mampu menunjukkan kami ke jalan yang benar di sekitar kawasan ibu kota. Setelah kurang lebih satu jam setengah, kami akhirnya tiba di stasiun Gondangdia dan langsung menuju aula masjid al-Furqon yang letaknya masih dalam komplek perkantoran dewan dakwah.
La Tansa dan Ide Pengembangan Sains
Oleh Irman Sulaiman Fauzi
Hingga kini masih ada kalangan yang mempertanyakan kemampuan pesantren perihal sains modern dan teknologi. Mereka selalu beranggapan bahwa pesantren hanya disibukkan dengan kajian-kajian yang bersifat ukhrawi lantas menolak atau kurang familiar dengan ilmu-ilmu duniawi. Sekalipun ada kajian ke arah keduniawian, menurut mereka, masih terbatas pada tataran normatif belum aplikatif.
Ijtihad Kiyai Rifa’i tentang Desekularisasi Sains
Oleh Juredi
Puslitbang Pondok Pesantren La Tansa
Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ‘digembirakan’ dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi antara blok Barat (Amerika dan sekutunya) dan Blok Timur (Uni Soviet). Kebangkitan Islam di belahan dunia timur pun menyeruak dengan tampil-nya Islam sebagai ideologi peradaban dunia dan kekuatan altenatif bagi perkembangan perabadan dunia.
Gelombang kebangkit-an ini tak terkecuali sampai di daratan Indonesia dan memengaruhi konstelasi politik di dalamnya. Kekuasaan Orde Baru yang begitu oto-riter dan kurang memberi-kan ruang gerak politik, sosial dan ekonomi yang ‘sebenarnya’ bagi umat Islam, mulai bergeser ke arah yang lebih akomodatif terhadap kepenting-an umat Islam. Setidaknya, sikap akomodatif ini ditandai dengan berdirinya dua insti-tusi yang merepresentasikan kekuatan ekonomi dan sosial-politik umat Islam, yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang didirikan pada tahun 1991 oleh MUI dan Pemerintah Indonesia, dan berdirinya Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tanggal 7 Desember 1990 (Soleh Rosyad, Modul Sejarah Umum III SMA, 2002).
Dari sudut pandang pemikiran, lahirnya BMI dan ICMI mengindikasikan runtuhnya pemikiran sekularisme Harvey Cox dan Robert N. Bellah yang diperjuangkan Nurcholish Madjid di Indonesia sejak awal tahun 1970. Karena kemunculan BMI dan ICMI mengindikasikan kesadaran kolektif untuk mendesekularisasi atau mengin-tegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam struktur kenegaraan (kekuasaan).
Read more: Ijtihad Kiyai Rifa’i tentang Desekularisasi Sains

