Ijtihad Kiyai Rifa’i tentang Desekularisasi Sains
Oleh Juredi
Puslitbang Pondok Pesantren La Tansa
Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ‘digembirakan’ dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi antara blok Barat (Amerika dan sekutunya) dan Blok Timur (Uni Soviet). Kebangkitan Islam di belahan dunia timur pun menyeruak dengan tampil-nya Islam sebagai ideologi peradaban dunia dan kekuatan altenatif bagi perkembangan perabadan dunia.
Gelombang kebangkit-an ini tak terkecuali sampai di daratan Indonesia dan memengaruhi konstelasi politik di dalamnya. Kekuasaan Orde Baru yang begitu oto-riter dan kurang memberi-kan ruang gerak politik, sosial dan ekonomi yang ‘sebenarnya’ bagi umat Islam, mulai bergeser ke arah yang lebih akomodatif terhadap kepenting-an umat Islam. Setidaknya, sikap akomodatif ini ditandai dengan berdirinya dua insti-tusi yang merepresentasikan kekuatan ekonomi dan sosial-politik umat Islam, yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang didirikan pada tahun 1991 oleh MUI dan Pemerintah Indonesia, dan berdirinya Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tanggal 7 Desember 1990 (Soleh Rosyad, Modul Sejarah Umum III SMA, 2002).
Dari sudut pandang pemikiran, lahirnya BMI dan ICMI mengindikasikan runtuhnya pemikiran sekularisme Harvey Cox dan Robert N. Bellah yang diperjuangkan Nurcholish Madjid di Indonesia sejak awal tahun 1970. Karena kemunculan BMI dan ICMI mengindikasikan kesadaran kolektif untuk mendesekularisasi atau mengin-tegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam struktur kenegaraan (kekuasaan).
La Tansa: “Kado Perayaan” Runtuhnya Sekularisme di Indonesia
Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam, sekularisme hingga dekade 90-an telah berhasil menciptakan paradigma dikotomis dalam memandang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tersekularisasi secara massif; terpisahkan dari nilai-nilai moral dan spiritual, tergeser idealismenya, tercerabut dari akar epistimologisnya yang shahih, dan mengalami disorientasi pada dataran aksiologisnya. Tak pelak lagi, pada saat yang bersamaan kondisi ini mengundang berbagai reaksi para cendikiawan muslim yang paradigmanya masih selamat dari ‘penyakit’ sekularisme.
Di antaranya adalah Syed M. Naquib Al Attas, seorang pemikir pendidikan jenius dan gigih memperjuangkan gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuann. Dengan gagasan Islamisasi Pengetahuannya, Al Attas melakukan koreksi dan rekonseptualisasi ilmu pengetahuan pada dataran yang sangat mendasar; dataran epistimologis. Al Attas juga menangkap bagaimana proses sekularisasi telah menciptakan pergeseran aksiologis ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanya dijadikan alat untuk meraih kebahagiaan material. Dalam karyanya Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Al Attas menulis:
“Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial-ekonomi, tetapi secara khusus juga berperan dalam mencapai tujuan-tujuan spiritual manusia. Hal ini tidak berarti bahwa aspek-aspek sosial-ekonomi dan politik tidak penting, tetapi kedudukannya lebih rendah dan lebih difungsikan sebagai pendukung aspek-aspek spiritual.”
Akibatnya, pendidikan sudah dianggap baik apabila sudah mencip-takan pencapaian materil, sementara persoalan moral yang ditimbulkan tidak dianggap sebagai persoalan, seperti kerusakan alam, korupsi, lahirnya pemimpin yang tidak amanah, penyalahgunaan wewenang, dll.
Pada dataran yang lebih praktis, dampak nyata dari paradigma dikotomis dalam memandang ilmu pengetahuan adalah dipecahbelahnya ilmu pengetahuan ke dalam dua cluster, cluster ilmu umum dan cluster ilmu agama. Padahal, konsepsi ilmu pengetahuan dalam Islam sebagaimana dikonsepsikan secara cerdas oleh Wan Daud dalam Konsep Pengetahuan dalam Islam bahwa bangunan ilmu pengetahuan dalam Islam adalah bangunan yang utuh terintegrasi, holistik dan trintegrasi baik pada dataran konseptual maupun praktikal. “Sifat penting konsep pengetahuan dalam Islam dan, terutama, dalam al Quran adalah sifatnya yang holistik atau utuh”, (Man Mohd. Nor Wan Daud, 1997).
Pendikotomian ilmu pengetahuan ke dalam dua cluster ini, selanjutnya menciptakan pembagian wewenang dan otoritas lembaga pendidikan dalam mengajarkan ilmu pengetahuan. Ada lembaga pendidikan yang memiliki otoritas mengajarkan ilmu-ilmu umum, dan ada lembaga yang diberikan otoritas untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama.
Secara sosiologis, dampak dikotomi ilmu pengetahuan ini juga dirasakan oleh lulusan-lulusan Pondok Pesantren Modern. Sebagian besar alumninya kesulitan mengakses pendidikan di perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu-ilmu umum (sebenarnya kami enggan menggunakan istilah ini). Itu terjadi karena secara sistemik pendidikan pesantren atau pendidikan yang berlabel madrasah kurang mendapatkan perhatian yang semesti-nya oleh pemerintah. Selain itu, karena sekularisasi juga ikut andil dalam mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kedua lembaga ini, sehingga kondisinya makin kurang kondusif bagi dunia pendidikan Islam. Kondisi semacam ini, pada titik tertentu bisa teratasi apabila pihak pondok pesantren dan madrasah mampu mela-kukan inovasi sistemik, sehingga out put yang dihasilkan compatible dengan kondisi sosial, ekonomi, bahkan politik saat itu. Dan masih banyak lagi resul-tan-resultan negatif dari proses sekula-risasi yang secara umum menimbulkan kekacauan sistem sosial, terutama sistem pendidikan di Indonesia.
Karena itu, keruntuhan sekularisme menjadi awal dari perubahan sosial (social change) dan kebangkitan bangsa Indonesia menuju kebangkitan Islam. Keruntuhan sekularisme tentu saja melahirkan kondisi yang kondusif bagi perkembangan dunia pendidikan yang selama proses sekularisasi menjadi sasaran utama. Keadaan seperti ini memberikan ruang gerak yang leluasa bagi para praktisi pendidikan untuk melakukan berbagai ijtihad pendidikan.
Drs. K.H. Rifa’i Arief, dengan kecerdasannya menyikapi realitas kehidupan, dan ketajaman visinya, bisa dikatakan menjadi orang pertama yang mampu menyikapi realitas ini dengan terobosan yang berani, memecah “kebuntuan” sistem pendidikan pesantren modern saat itu (era 90-an). Terobosan itu adalah didirikannya Pondok Pesantren La Tansa, yang secara formal beroperasi pada tahun ajaran 1991/1992. Dikatakan terobosan, karena pondok pesantren La Tansa menerapkan sistem pendidikan pondok pesantren yang berbeda dengan sistem pendidikan pondok pesantren pada umumnya, sistem pendidikan formlanya berafiliasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud, saat ini Depdiknas), pada umumnya pondok pesantren modern berafiliasi dengan Departemen Agama (MTs/MA).
Terobosan ini, dalam kontek melihat latar sejarah Pondok Pesantren La Tansa, dapat disintesakan bahwa La Tansa adalah “kado” kesyukuran atas ghiroh umat Islam di era 90-an dan perayaan bagi runtuhnya sekularisme.
Lantas, apakah kemudian dikatakan bahwa La Tansa didirikan didorong oleh euforia guna merayakan runtuhnya sekluralisme semata? Tentu saja tidak, hal yang kami sebutkan di atas hanyalah sebuah sintesa dan rekonstruksi realitas sejarah yang bersifat interpretatif (penafsiran) dari dua peristiwa yang terjadi dan memiliki hubungan yang logis untuk disintesakan (menurut hemat penulis). Tentu saja, La Tansa lahir dari rahim idealisme yang sudah lama mengakar dalam benak Kiyai Kharismatik.
Drs. K.H. Ahmad Rifa’i Arief. Hal ini cukup rasional, mengingat pengalamannya yang teruji dalam dunia pendidikan. Kiyai Rifa’i telah mengenyam pendidikan pondok pesantren modern selama 6 tahun di Pondok Modern Darussalam Gontor, dilanjutkan dengan masa pengabdian di Gontor selama 3 tahun dengan beragam pengalamannya, ia pun telah bertafaqquh fiddien di beberapa pesantren tradisional, pengalamannya mendirikan dan memimpin pondok pesantren Daar El Qolam selama 22 tahun, bahkan mengajar santri yang ada di dalamnya, persentuhannya dengan berbagai macam literatur, persahabatan beliau dengan orang dari berbagai kalangan, persentuhannya dengan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, semua itu membentuk Kiyai Rifai tidak hanya sebagai seorang praktisi pendidikan, namun juga sebagai pemikir yang memiliki konsepsi pendidikan yang komprehensif, mulai dari konsepsi pendidikan pada dataran filosofis hingga pada dataran praktis.
Hal itu dapat dilihat dari QS. al Qashash ayat 77: yang menjadi landasan filosofis Pondok Pesantren La Tansa. Al Qhashash merupakan kalam Allah yang secara cerdas diadopsi oleh Kiyai Rifa’i, tidak hanya ikut andil dalam upaya “mengebumikan” dalam-dalam paham sekularisme. Al Qhasah yang mengajar-kan untuk hidup secara seimbang, untuk menggapai kesuksesan duniawi yang mampu menghantarkan kepada kebahagiaan ukhrowi, untuk mengu-asai segala macam ilmu penegtahuan tanpa ada dikotomi. Al Qhashash juga secara umum memberikan gambaran konsepsi Kiyai Rifa’i Arief tentang kehidupan dunia dan akhirat yang utuh, dan konsepsinya tentang ilmu pengetahuan yang benar.
Secara eksplisit, konsepsi Kiyai Rifa’i tentang ilmu pengetahuan jelas terlihat dari pendapatnya bahwa hakikat ilmu pengetahuan adalah dari Allah, beliau mendasarkan pada QS. Yusuf: 76 dan Al ‘Alaq: 5 (Soleh Rosyad, Kiprah Kiyai Entrepreneur: 261).
Konsepsinya tentang kurikulum juga nampak jelas dari essei beliau tentang “Kurikulum Pesantren Masa Depan”,
“Sistem nilai pesantren tidak berubah, harus tetap dipertahankan dari zaman ke zaman. Yang boleh berubah adalah sistem ajarnya, kurikulum dan metodo-loginya. Sistem ini diterapkan dengan pertimbangan santri menghadapi era industrialisasi, era reformasi, dan glo-balisasi, artinya pesantren memper-siapkan mereka untuk 30 sampai 50 ta-hun mendatang” (Soleh Rosyad, 267).
Tak terkecuali pandangan beliau terhadap sains dan teknologi yang sangat akomodatif namun tetap diborderi nilai-nilai moral dan spiritual. Pandangannya:
“Kurikulumnya akomodatif, selalu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan zaman. Bukan untuk larut dalam kesemauan kehidupan dalam zaman yang cenderung sekuler, melainkan justru untukmewarnainya dengan prinsip-prinsip Islam ” (Soleh Rosyad, 267).
“Maka sistem pendidikan pesantren merupakan salah satu alternatif yang ideal dalam pendidikan nasional guna menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Yaitu manusia yang memiliki keterampilan (skill), ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), berlandaskan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT” (Soleh Rosyad, 268).
Dari konsepsi beliau tentang ilmu pengetahuan dan pendidikan sebagaimana kami kutipkan di atas, dapat dipahami bahwa konsepsi keilmuan Kiyai Rifa’i adalah konsepsi ilmu pengetahuan yang holistik (kaffah), terintegrasi, progressif, adaptif, dan akomodatif terhadap perkembangan zaman. Sangat berbeda dengan konsepsi ilmu pengetahuan yang sekuler. Konsepsi ilmu pengetahuan Kiyai Rifai tidak memberikan ruang dikotomi, “hakikat ilmu pengetahuan adalah dari Allah”. “Dari Allah” menandakan kesatuan ilmu pengetahuan.
Pemikiran Kiyai Rifai Warnai Atmosfir Pendidikan La Tansa
Pemikiran Kiyai Rifa’i pada dataran praktis mewarnai atmosfir pendidikan di pondok pesantren La Tansa, secara spesifik memberikan arah pada terbentuknya bangunan kurikulum Pondok Pesantren La Tansa yang akomodatif terhadap upaya pengembangan sains. Sebagaimana diungkapkan Kepala Bidang Kurikulum Pondok Pesantren La Tansa, Ust. Tamrin Hafidh Nawawi, bahwa dalam struktur kurikulum pesantren, pelajaran-pelajaran yang Sains-MAFIKIB mendapatkan alokasi yang cukup signifikan, yaitu 40% dari keseluruhan proporsi SKS yang ada.
Proses pembelajaran Sains-MAFIKIB juga didukung oleh sarana dan fasilitas laboratorium yang mencukupi untuk kebutuhan praktikum, didukung perlatan yang sudah berstandar nasional, dan fasilitas komputer yang sudah terkoneksi dengan internet untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.
Alokasi jam pelajaran Sains-MAFIKIB yang cukup signifikan dan dukungan fasilitas yang memadai ini ternyata tidak sia-sia, indikator-indikator yang menunjukan perkembangan sains di Pondok Pesantren La Tansa cukup representatif. Mulai dari munculnya ghiroh sains dengan banyaknya klub-klub santri peminat sains, seperti Tim Lab Skill, KIR, Klinik MAFIKIB, Mathematics Class, dan Tim Robotik.
Kondisi ini kemudian menstimulasi para santri untuk melakukan berbagai kegiatan riset, sedikitnya Tim Lab Skill dan KIR telah menghasilkan 3 produk riset; riset ekstrak kulit Duren sebagai Bio Insektisida Nymauk, riset kulit Jeruk sebagai Bio Insektisida Lalat, dan riset esktrak Pinang sebagai Bio Insektisida Lalat.
Indikator lain adalah dalam bentuk prestasi dan partisipasi aktif santri dalam even-even perlombaan sains yang kian kuat. Untuk riset ekstrak kulit Duren telah dilombakan di even Pesta Sains antara SMA se-Jabar, Jabotabek dan Banten di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung tahun 2009. Riset esktrak Jeruk telah dilombakan antara SMA se-Jabar, Jabotabek dan Banten di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung tahun 2009, keduanya meraih Juara 1. Untuk riset esktrak Pinang sebagai Bio Insektisida Lalat saat tulisan ini dibuat, baru dinyatakan lulus seleksi proposal riset untuk mengikuti Pesta Sains di UPI untuk yang kedua kali.
Berikut daftar prestasi dan keikusertaan Tim Lab Skill dan KIR La Tansa di sejumlah even perlombaan bidang sains-MAFIKIB 2 tahun terakhir:
a. Partisipan Pesta Sains Tingkat Nasional, diselenggarakan oleh IPB Tahun 2006.
b. Juara II Olimpiade Matematika Tingkat Kabupaten, diselenggara-kan oleh Dinas Pendidikan Kab. Lebak Tahun 2006.
c. Juara III Olimpiade Sains Tingkat Propinsi, diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Propinsi Banten Tahun 2006.
d. Semifinalis Pesta Sains Tingkat Nasional, diselenggarakan oleh IPB Tahun 2007.
e. Semifinalis Metabolisma Tingkat Nasional, diselenggarakan oleh Institut Teknologi Nasional Tahun 2007.
f. 1 santri lolos untuk menempuh studi program S1 Jurusan Matematika IPB, program Beasiswa Depag RI utusan Propinsi Banten, Tahun 2007.
g. Juara I Lomba Cepat Tepat Biologi Tingkat Propinsi, diselenggarakan oleh UNTIRTA Serang Tahun 2008.
h. Semifinalis Lomba Cepat Tepat Biologi Tingkat Nasional, diselenggarakan oleh UPI Bandung Tahun 2008.
i. Juara III Lomba Cepat Tepat Biologi Tingkat Propinsi, diselenggarakan oleh UNTIRTA Serang Tahun 2008.
j. Semifinalis Metabolisma Tingkat Nasional, diselenggarakan oleh Institut Teknologi Nasional Tahun 2008.
k. Juara I Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten, diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kab. Lebak Tahun 2008.
l. Juara I Karya Ilmiah Remaja Tingkat Kabupaten, diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kab. Lebak Tahun 2008.
m. Juara I Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten, diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kab. Lebak Tahun 2008.
n. Juara III Olimpiade Sains Tingkat Propinsi, diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Propinsi Banten Tahun 2008.
o. Juara I Pesta Sains Tingkat Jabodetabek, Banten dan Jawa Barat, diselenggarakan oleh UPI Tahun 2009.
p. Juara I Pesta Sains Tingkat Jabodetabek, Banten dan Jawa Barat, diselenggarakan oleh UNPAD Tahun 2009.
q. Juara III Pesta Sains Tingkat Jawa Barat, DKI, dan Banten di UPI Bandung tahun 2010
Atmosfir akademik bernuansa sains ini tentu saja sulit terjadi apabila atmosfir pendidikan nasional kita masih dipengaruhi awan mendung sekularisme. Namun, tentu saja yang paling berperan secara fundamental dalam menciptakan akademik atmosfir di La Tansa adalah holistisitas paradigma keilmuan Drs. K.H. Ahmad Rifai Arief dan konsepsinya tentang kehidupan yang sahih, yang itu melahirkan fondasi filosofis, visi, misi, dan desain kurikulum pondok pesantren La Tansa yang sejalan dengan ghiroh sains. Wallaahu a’lam.

