Datok Sinaro Pandjang dan Kiyai Mumtaz
Oleh Irman Sulaiman Fauzi
Beberapa hari yang lalu saya bersama seorang teman menghadiri sebuah seminar nasional di markas DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) Kramat Raya Jakarta Pusat. Karena acara dimulai jam 8 pagi dan jauhnya jarak yang harus ditempuh, kami pun bergerilya menyusuri ruas jalan lintas provinsi Banten-Jawa Barat menuju kos-kosan kawan di kota Bogor untuk sekadar transit. Esoknya paginya kami bergegas ke stasiun kereta. Alasannya klasik, selain praktis, moda transformasi massa yang realatif murah itu mampu menunjukkan kami ke jalan yang benar di sekitar kawasan ibu kota. Setelah kurang lebih satu jam setengah, kami akhirnya tiba di stasiun Gondangdia dan langsung menuju aula masjid al-Furqon yang letaknya masih dalam komplek perkantoran dewan dakwah.
Di sekitar pintu masuk aula, dengan ramah para resepsionis yang juga mahasiswa dari salahasatu perguruan tinggi Islam di Jakarta menyambut kami. Tidak jauh dari sana kami disuguhi jejeran foto berukuran super jumbo. Foto-foto itu berkisah tentang aktivitas seorang ulama besar kenamaan asal tanah Minang di dunia internasional, Datok Sinaro Pandjang alias Mohammad Natsir (w1993). Tidak lama berselang sorotan mata saya tertuju pada sebuah foto yang letaknya persis berada di bagian ujung etalase, beberapa meter dari posisi saya berdiri.
Sayapun melangkah ke arah foto tersebut seraya berharap ada suatu hal yang mengejutkan. Tak kuduga dan kusangka ternyata di antara jajaran foto yang sebagian besar berisi gambar Natsir itu ada dua foto yang menampilkan seorang kiyai, dan kiyai itu sangat saya kenal baik. Beliau adalah sang Kiyai Mumtaz, gelar KH. Ahmad Rifa’i Arif yang biasa saya sebut Kiyai Rifa’i. Dalam foto pertama tampak beliau sedang duduk berdampingan dengan Natsir. Satunya lagi, beliau terlihat sedang menyimak dengan sangat serius ceramah Natsir yang juga duduk tepat di samping kanannya.
Sejauh ini memang saya pribadi belum menanyakan kepada pihak DDII tentang alasan mengapa memilih kedua foto tersebut untuk dipamerkan di antara foto-foto yang sebagian besar bertemakan aktivitas internasional itu. Mungkin saja kebetulan atau memang tidak ada foto lain?, Wallahu a’lam bish-showab. Tapi ormas sebesar DDII tentu tidak sembarangan menampilkan ‘wajah’ Natsir. Sepertinya mereka ingin menyampaikan pesan kepada publik bahwa “inilah sejarah kebesaran Natsir”, dan, kalau boleh saya tambahkan, “Kiyai Rifa’i adalah bagian dari kebesaran itu”.
Naluri berspekulasi saya pun tergoda: “sosok kiyai yang saya kagumi itu musti memiliki hubungan baik dengan Natsir dan punya urusan ummatik bersama”. Padahal sebelumnya mindset saya terbelaah dua ketika berhadapan dengan kedua tokoh tersebut: tidak ada satu utaspun benang yang menghubungakan keduanya. Setelah kejadian itu, pikiran pun berubah dan berniat untuk berbagi cerita seputar pengalaman unik tersebut. Tapi beberapa pertanyaan berputar-putar mengelilingi kepala ini: “Apakah benar mereka saling mengenal?”, “Kalaulah benar, sejauh mana kedekatan mereka?”, dan “Pada kegiatan, aktivitas serta gerakan apa saja yang mereka geluti bersama?”. Pertanyaan-pertanyaan inipun nyaris membuat niat saya urung dan mundur satu per lahan.
Terus terang saya grogi dan hanya bisa tersenyum jika ditanya soal ini itu menyangkut persahabatan mereka. Selain belum banyak data yang bisa saya kuliti dan hanya berdasarkan pada data bisu yang kemungkinan derazatnya dhaif, informasi ini pun masih berasaskan “praduga tak salah”. Meski demikian, saya berharap mudah-mudahan obrolan ini bermanfaat untuk memicu terbukanya kran informasi yang lebih komprehensif dan layak didiskusikan. Inilah alasan mendasar mengapa begitu bernafsunya saya untuk “ngegosif” tentang perkiraan adanya relasi antara kedua tokoh besar tersebut, Datok Sinaro Pandjang dan Kiyai Mumtaz.
Siapakah Datok dan Kiyai Mumtaz itu, berikut sedikit paparan jejak kehidupan mereka.
Datok Sinaro Pandjang
Datok Sinaro Pandjang merupakan gelar kehormatan yang diberikan kepada Mohammad Natsir oleh masyarakat adat Minang karena jasanya mengharumkan nama baik suku Minangkabau dan bangsa Indonesia umumnya. Gelar tersebut tidak saja pantas tapi memang sebuah kelaziman bagi kita dan siapapun sebagai bentuk penghargaan kepada Natsir yang hidupnya syarat manfaat. Di mata banyak tokoh; politik, akademisi, ulama, dll, nama Natsir tidaklah asing. Perjalanan hidupnya menarik minat banyak pihak untuk meneliti dan mengkajinya. Buku-buku yang berisi tentang perjuangan Natsir termasuk karya jurnalistik dalam bentuk infografik dapat dengan mudah kita temui di beberapa tempat.
Dari gambar yang sebagaimana dikemukakan di atas, menunjukkan fakta luasnya medan juang Natsir. Media visual itu menggambarkan seputar pertemuan Natsir dengan tokoh-tokoh besar dan kunjungannya ke beberapa negara di belahan dunia. Dari Yusuf al-Qaradhawi, tokoh-tokoh penting negara Jepang dan Rusia, misalnya, sampai dengan kehadiran sejumlah pejuang asal Afganistan di ruang tamu rumah Natsir. Meskipun fragmentatif, pikiran saya mencerap pesan bahwa sang Datok merupakan tokoh muslim yang punya global network.
Prihal keberadaan para pejuang tersebut, Natsir, sebagaimana tertulis dalam keterangan foto, sedang mendengarkan “curhatan” (curahan hati) salah seorang dari mereka. Dalam foto tersebut, Natsir terlihat dari raut wajahnya sangat serius menyimak ucapannya. Entah mengapa, mungkin para laskar itu sedang menjelaskan bagaimana kondisi terakhir perjuangan mereka dan keadaan umat muslim di sana kala itu. Wajar saja, selain sebagai seorang ulama, Natsir juga seorang diplomat muslim yang handal dan sangat diperhitungkan. Ia dikenal punya kekuatan pribadi yang cukup besar di mata dunia.
Luar biasa, semenajak kepergian beliau 17 tahun yang lalu sampai hari ini saya belum menemukan tokoh sekaliber atau paling tidak mendekati “keanehan” Natisr. Dari sini bisa kita bayangkan betapa sang pendiri organisasi masyarakat dewan dakwah (DDII) itu punyai pengaruh dan peran yang sangat penting terhadap, tidak saja nasional, tapi juga dunia internasional. Beberapa potongan sejarahnya menyebutkan: saat Orde Baru berkuasa misalnya, Natsir pernah melayangkan surat kepada perdana menteri Jepang untuk meloloskan bantuan negaranya kepada Indonesia yang saat itu sedang dilanda krisis ekonomi. Selain itu, dari balik jeruji pada 1967, Natsir mengerahkan kemampuan diplomasinya membantu mencairkan hubungan pemerintah orde baru dengan Malaysia melalui surat pribadinya kepada PM Tengku Abdurrahman. Sudah tentu, kewibawaannya lah yang telah menggerakkan hati kedua perdana menteri tersebut.
Ketokohan beliau dan jasanya yang sangat besar terhadap negeri ini direkam oleh para koleganya. Salah satu dari jasanya itu adalah Mosi Integral yang beliau komandoi hingga melahirkan bentuk akhir dari proses panjang perjuangan pemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Bentuk akhir itu adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Akhirnya, dengan keppres nomor 041/TK/Tahun 2008 tokoh yang pernah menjabat Perdana Mentri RI dan menteri Penerangan di tiga kabinet itu (1948-1949) didaulat sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.
Kemungkinan besar inilah yang menjadikan sang Kiyai Mumtaz, dalam perspektif subjektif saya, semasa hidupnya miliki kedekatan yang cukup spesial dengan Natsir dan memandang perlu untuk ‘berguru’ kepadanya. Lagi-lagi, ini sekadar asumsi yang bisa saja berkembang menjadi ekspektasi karena saya akui ada harapan yang besar bahwa “temuan” saya ini benar atau paling tidak mendekati kebenaran.
Kiyai Mumtaz
“Kiyai Mumtaz” adalah gelar Kiyai Rifa’i yang pertama kali diberikan oleh almarhum Cak Nur (Prof. Dr. Nurcholish Madjid) pada sebuah acara festival di Masjid Istiqlal tahun 1995. Untuk keduakalinya Caknur menyampaikan gelar tersebut saat menghadiri acara Maulid Nabi di Daar el Qolam pada tahun 1996 lalu. Menurut Kiyai Sholeh, anak menantu Kiyai Rifa’i, kekagumannyalah yang membuat Caknur berkata demikian dan mengakui kecerdasan Kiyai Rifa’i terbukti dari beberapa karya nyatanya. Beliau wafat persis setelah menyampaikan ceramah pada acara penglepasan santri akhir (kelas 6) di Pondok Pesantren Daar el Qolam tepatnya pada hari Ahad 15 Juni 1997 bertepatan dengan 10 Shafar 1418 hijriah. (Sholeh Rosyad: 2007)
Pepatah bijak mengatakan “sebaik-baiknya warisan adalah ilmu”. Kepergian Kiyai Rifa’i untuk selama-lamanya mewariskan sesuatu yang sangat berharga bagi generasi pelanjutnya. Ia pergi meninggalkan, tidak saja ilmu, tapi ‘gudang ilmu’. Dua pondok pesantren besar yang kini dihuni oleh ribuan santri: Daar el Qolam di Tangerang, La Tansa di Lebak, dan satu perguruan tinggi La Tansa Mashiro di Rangkasbitung adalah ‘gudang ilmu’ yang berdiri seiring dengan semangatnya yang tek kenal lelah membangun umat. Beberapa penggalan peristiwa bersejarah masa hidupnya menggambarkan betapa getir dan pahitnya perjuangan Rifa’i muda menanam syajarah yang buah matangnya bisa kita nikmati sekarang.
Belum lagi beberapa pesantren yang didirikan alumni-alumninya di beberapa wilayah, di Banten khususnya. Tidak diragukan lagi, dengan ilmu yang bermanfaat serta karya besar beliau dan para muridnya membuat kiyai tamatan Gontor itu selalu hidup dan menginspirasi siapapun yang mengenal atau ingin mengenalnya.
Bahwa kebesaran seorang tokoh tidak saja lahir dari pancaran aura internal pribadinya tapi ditunjang oleh seberapa mampu generasi yang hidup setelahnya menghayati, mengamalkan berikut concern terhadap apa yang disebut sebagai tauladan. Proses menghayati dan mengamalkan serta konsistensi generasi penerusnya itu dapat menjadi modal transformasi sekaligus wacana bersama yang akarnya bisa menjalar ke mana-mana. Pada gilirannya mampu mengatasi hasrat keingintahuan berbagai pihak sekaligus syiar serta memancing mereka untuk melakukan pengkajian lebih lanjut.
Oleh karena itu, menurut hemat saya, wacana historis biografi Kiyai Rifa’i termasuk interaksinya dengan tokoh pergerakan muslim JIB (Jong Islmieten Bond) itu perlu dibentangkan dari generasi ke generasi. Mengingat setiap kajian sejarah menghajatkan penyegaran (review) dalam skala waktu yang ditentukan agar tidak kehilangan hikmah (spirit) sejarah. Pondok Pesantren La Tansa melalui ujian tulis Kepondokan sudah melakukan upaya itu. Namun demikian masih berkisar pada sisi sejarah yang cakupannya belum meluas pada aktivitas eksternal Kiyai Rifa’i yang justru, dalam pandangan saya, lebih mampu menginspirasi murid-muridnya atau siapapuun untuk berkiprah di masyarakat.
Sebenarnya buku berjudul “Kiprah Kiyai Entrepreneur” (2007) yang ditulis dengan apik oleh guru saya, KH. Sholeh, sudah menjawab kebutuhan itu. Dalam buku tersebut, penulis yang kini kandidat doktor itu menampilkan catatan kesaksian sejumlah tokoh pesantren, akademisi, politik, alumni. dan keluarga Meskipun demikian, sejauh pembacaan saya, buku tersebut belum membahas secara khusus kisah pertautan antara Kiyai Rifa’i dengan Natsir. Dalam buku ini, penulis hanya mencantumkan satu foto, persis seperti yang saya temukan di dewan dakwah, tepatnya pada pertengahan halaman 144-145. Itupun belum ada keterangan yang menjelaskan isi foto tersebut. Oleh karenanya, dengan tidak mengurangi besarnya manfaat dan apresiasi atas karya monumental tersebut dan dengan rendah hati saya mengusulkan satu pembahasan yang mengupas jejak juang Kiyai Rifa’i bersama Natsir pada edisi selanjutnya yang kabarnya sedang dilirik oleh penerbit Gramedia.
Satu lagi literatur biografis yang terbit setahun setelah “Kiyai Entreprener”, “Pesantren Daar El-Qolam, Menjawab Tantangan Zaman” (Daar el-Qolam Press: 2008). Penulisnya saudara Muhammad Wahyuni Nafis, alumni Daar El-Qolam tahun 1987. Dalam karyanya itu, Pak Wahyuni tidak memaparkan perkenalan langsung antara Kiyai Rifa’i dengan Natsir. Berdasarkan index buku, nama Mohammad Natsir hanya dua kali disebutkan, halaman 19 dan 54. Setelah ditelusuri, di sana hanya ada catatan ketelibatan Kiyai Qashad Mansur, ayahanda Kiyai Rifa’i, di Masjumi (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) dimana Natsir pernah menjadi ketua umumnya. Kala itu, Masyumi merupakan partai politik besar yang memperjuangkan aspirasi umat Islam dan tempat berkumpulnya kalangan intelektual muslim. Ini senyawa dengan karakteristik Kiyai Qashad yang semasa hidupnya memiliki kepedulian terhadap nasib umat Islam. (Wahyuni Nafis:2008)
Agaknya sedikit ada titik terang dari buku ini, bahwa bisa saja kiprah Kiyai Qashad di Masyumi menginspirasi Kiyai Rifa’i untuk bisa berkenalan dengan Natsir. Entah apa yang dilakukan setelah perkenalan itu, buku setebal 195 halaman itu hanya menyisakan rasa penasaran saya semakin menguat.
Secuil Harapan
Picture speaks a thausand words, paling tidak ungkapan itu membuat saya agak sah memungsikan fakultas estimatif saya dan merasa perlu untuk memunculkan wacana historis tentang kedua tokoh ulama par-excellent tersebut ke permukaan. Maka dari itu menggali kembali sisi-sisi lain dari sejarah perjuangan Kiyai Rifa’i akhirnya menjadi sangat penting. Tidak saja persahabatannya dengan Natsir, tapi kemungkinan ada beberapa tokoh perjuangan atau ulama nasional lainnya yang barangkali memiliki pengaruh tidak kecil terhadap konsistensi perjuangan dan pemikiran Kiyai Rifa’i. Sepengetahuan saya pribadi, pihak keluarga Kiyai Rifa'i sendiri belum menutup pintu kemungkinan lahirnya catatan-catatan penting tentang sejarah kehidupan Kiyai Rifa'i. Dan memang dimanapun kajian biografis merupakan korpus terbuka yang setiap orang bisa melakukan aktivitas penafsirannya terhadap perjalanan hidup seorang tokoh tertentu selama ia bisa mempertanggungjawabkannya serta tidak menimbulkan malaise.
Ala kulli hal, catatan kecil ini tidak bermaksud lebay atau mengagung-agungkan kedua tokoh itu. Harapan tetaplah harapan, sekalipun kehadiran Natsir di sisi Kiyai Rifa’i nantinya tidak terbukti, tidak lantas mengikis kebesaran mereka masing-masing. Sekali lagi, mudah-mudahan bisa menghasilkan letupan-letupan informasi tentang Kiyai Rifa’i dari siapapun yang belum terungkap demi memperkaya khazanah pemikiran beliau agar amal itu selalu mengalir hingga akhir zaman. Wallahu a’lam

