Direktur PP IPTEK: “Ujian (sejenis UN, red) di Malaysia tidak menjadi syarat kelulusan, ujian hanya dijadikan sebagai instrumen untuk membuat peringkatan saja..."
La Tansa_14/10/10
Banyak hal yang menarik dari Workshop Science Club Development yang diselenggarakan Pusat Peragaan IPTEK (PP IPTEK),TMII Jakarta Kamis 14 Oktober 2010. Salah satu yang cukup menarik penulis dari workshop yang diikuiti oleh para guru SD, SMP, MTs, MA dan SMA se-Jabodetabek dan Banten ini adalah paparan Direktur PP IPTEK Drs. Sukro Muhab, M.Si. yang menjadi pembicara untuk sesi Opening Ceremony. Pada kesempatan itu Sukro memaparkan materi tentang “Pendidikan dan Tantangan Masa Depan”. Secara makro, Sukro membahas tentang tantangan dunia pendidikan di era globalisasi kiatannya dengan upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menyampaikan sedikitnya ada 3 hal yang menjadi tantangan dunia pendidikan di Indonesia yaitu, kesenjangan kemajuan teknologi dengan dunia pendidikan, prestasi pendidikan kita tertinggal dan isu global pendidikan. Bagi beberapa kalangan ketiganya mungkin bukanlah wacana yang baru, namun kami melihat perlu untuk menjadi salah satu bahan pemikiran.
Kesenjangan kemajuan IPTEK, prestasi pendidikan dan HDI
Sukro yang juga dosen Fakultas MIPA UNJ ini melihat bahwa dunia pendidikan di Indonesia saat ini masih belum mampu mengimbangi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dinamikanya tidak lagi dihitung per hari. Dikatakan Sukro bahwa setiap 5 menit jurnal-jurnal penelitian internasional menerbitkan penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. “Sementara para guru masih menerangkan pelajaran yang berkaitan sains (IPA dan sosial, red) berdasarkan referensi buku yang masih berkutat pada teroi-teori yang dihasilkan puluhan bahkan ratusan tahun silam”, ungkap SUkropenuh perihatin. Salah satu pemandangan nyata terlihat saat Sukro menampilkan gambar buah jeruk berkulit pisang yang merupakan hasil rekayasa genetika, penulis dan sebagian besar peserta terlihat terperangah melihat gambar tersebut, artinya bahwa informasi tentang perkembangan hasil rekayasa ini belum banyak diakses oleh sebagian besar guru yang hadir, meskipun konsep dasar rekayasa genetika secara teoritis telah banyak dipahami, namun produk engineeringnya (rekayasa) belum banyak diketahui atau bahkan belum terpikirkan oleh sebagian besar guru, khususnya guru biologi. (Klik di sini untuk melihat gambar jeruk berkulit pisang yang penulis maksud)
Hemat penulis, ketertinggalan ini tidak hanya terkait dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah-sekolah namun juga terkait dengan ketertinggalan akses infromasi seputar perkembangan saintek (sains dan teknologi). Ketertinggalan akses ini secara fundamental disebabkan oleh dua hal, pertama penguasaan operasional guru terhadap perangkat teknologi informasi, kedua karena belum semua sekolah mampu memenuhi ketersediaan perangkat teknologi informasi yang mampu memberikan akses informasi global yang memadai, semisal jaringan internet. Lagi-lagi hal ini pun disebabkan oleh faktor fundamental lainnya yaitu kualitas SDM dan ketersediaan finansial.
Faktor pertama terkait dengan kesenjangan kemajuan teknologi dengan dunia pendidikan pada akhirnya kemudian melahirkan persoalan yang kedua yaitu ketertinggalan prestasi pendidikan. Sukro menyampaikan bahwa dari sebuah survei yang dilakukan di tahun 2003, oleh salah satu lembaga internasional terkemuka, PISA (Sukro tidak menyebutkan kepanjangan PISA), dari 49 negara yang disurvei, kemampuan mayoritas siswa Indonesia di mata pelajaran Matematika berada pada urutan ke-43, dan dilihat dari kemampuan risetnya, mayoritas siswa Indoensia berada pada posisi bontot; peringkat ke-49. Untuk afirmasi, mengenai data-data riset tahun 2003 tersebut dapat pembaca review dengan mengklik link-link berikut:
- Grafik Kemampuan Pendidikan Negara Pasifik klik di sini
- Grafik Skil Matematika klik di sini
- Grafik Kemampuan Pemecahan Masalah klik di sini
- Grafik Kemampuan Membaca klik di sini
Jika dicermati, ketertinggalan kita sungguh memperihatinkan, karena terjadi pada aspek-aspek yang fundamental. Skill membaca tidak diragukan lagi sebagai skill yang sangat penting, dari data terlihat bahwa budaya baca kita begitu rendah. Budaya baca terkait dengan kemauan 'memaksa diri' untuk membeli buku dan kemauan meluangkan waktu untuk membacanya. Jika dicermati dari fakta keseharian yang mudah kita temui, kita lebih mudah menginvestasikan kemampuan finansial dan waktu senggang kita kita untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pengembangan diri dan ilmu pengetahuan, lebih cenderung pada pemenuhan 'nafsu jalan-jalan' dan tuntutan trend life style. Kemampuan matematika pun setali tiga uang, padahal kemampuan matematika sangatlah penting karena kemampuan berhitung sangat menunjang disiplin ilmu manapun. Kemampuan matematika juga akan berpengaruh terhadap logika dan sistematika berpikir seseorang, demikian dikatakan banyak pakar pendidikan. Begitupun kemampuan problem solving, hal ini terkait juga dengan kemampuan riset, karena riset di dalamnya mencakup kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Kemampuan riset yang dimiliki oleh siswa akan sangat berpengaruh pada upaya melahirkan penemuan-penemuan baru yang datang dari dunia pendidikan. “Jepang dan Amerika adalah contoh dari sekian negara maju yang berhasil mencapai kemajuan ekonomi yang lahir dari produk riset IPTEKyang dikembangkan di dunia pendidikan” jelas Sukro.
Ketertinggalan dalam dunia pendidikan akhirnya juga berkorelasi dengan peringkat human development index (HDI) SDM Indonesia, karena pendidikan sebagai salah satu perangkat sistemik yang ‘bertugas mengolah’ sumber daya manusia Indonesia sehingga berdaya saing global. Maka, tidaklah heran jika akhirnya kita ‘diganjar’ dengan peringkat HDI yang masih membutuhkan upaya kerja keras dan cerdas. Subjeo, seroang Doktor Pertanian UGM dalam http:// suarapembaca.detik.com menulis, “Secara keseluruhan kondisi indek pembangunan manusia (human development index/HDI) di Indonesia masih jauh dari menggembirakan. Dengan nilai HDI sebesar 0,734, Indonesia masih berada pada peringkat yang terbilang rendah yaitu urutan ke-111 dari 182 negara yang terdaftar.” Sebagai tambahan dan afirmasi, para pembaca dapat melihat data dari Bappenas yang disampaikan dalam sebuah seminar di Semarang, 2 Desember 2009, klik di sini.
Isu Global Pendidikan
Menurut Sukro, isu global pendidikan ini terkait dengan penerapan metode pembelajaran (dapat juga dikatakan sistem pendidikan) yang secara global saat ini diadopsi oleh negara-negara maju atau negara-negara yang peringkat HDI-nya masih di atas Indonesia, namun penerapannya belum terjadi di Indnesia. Sukro mencontohkan Malaysia, sistem pendidikan di Malaysia saat ini memiliki sistem pendidikan yang lebih terevaluasi dan mampu menghantarkan pada tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Sukro menceritakan tentang bagaimana sistem evaluasi pembelajaran yang ada di Malaysia, informasi ini ia dapatkan saat bertemu langsung dengan mantan Menteri Pendidikan Malaysia YB Tan Sri Dato’ Musa bin Mohamad. “Ujian (sejenis UN, red) di Malaysia tidak menjadi syarat kelulusan, ujian hanya dijadikan sebagai instrumen untuk membuat peringkatan saja, lain dengan di Indonesia, soal ujian yang dibuat tidak dalam bentuk pilihan ganda, tapi essay dan bersifat analitik-praktik, tidak (hanya, red) didominasi oleh hafalan dan pemahaman konspetual saja”, papar Sukro. Ia menambahkan bahwa penilaian kualitas sekolah akan ditentukan oleh hasil ujian siswanya, jika siswa suatu sekolah banyak yang mendapat nilai A (standar kelulusan yang ‘baik sekali’, red), maka kualitas sekolah tersebut akan juga dinilai ‘baik sekali’ dan mendapatkan label sertifikasi tertentu yang dikeluarkan oleh pemerintah. ‘Isu global yang baik’ tentang sistem pendidikan yang terjadi di negara tetangga ini ternyata belum teraktualisasi dalam sistem pendidikan kita, mainstream ujian yang terbangun secara sistemik dalam sistem pendidikan kita adalah bahwa ujian (UN) adalah segalanya, bahwa ujian senjata ampuh untuk mencapai kelulusan. Persoalannya kemudian bertambah rumit ketika kita menenengok ke ranah yang lebih mikro, yaitu tetang validitas proses UN yang berjalan dan reliabilitas soal UN yang diujikan secara nasional dimana sangat terkait erat dengan persoalan lokal kesekolahan; kurang lengakapanya fasilitas sekolah dan keberagaman metodologi pembelajaran yang dilakukan oleh setiap guru di sekolahnya masing-masing.
Isu global pendidikan yang disampaikan oleh Sukro juga terkait dengan wacana integrasi ilmu pengetahuan. “Tahun 2020, diprediksi akan terjadi upaya integrasi ilmu pengetahuan”. Disiplin ilmu agama, IPA, matematika, IPS, sastra dan disiplin ilmu lainnya tidak akan lagi berdiri sendiri, terpisah secara sporadis, namun akan akan menjadi suatu kesatuan ilmu yang melahirkan produk ilmu pengetahuan yang merupakan hasil integrasi dari berbagai disiplin ilmu. Jika prediksi itu terjadi pada tahun 2020, maka proses integrasi itu secara tidak disadari sebenarnya telah terjadi dan sedang diupayakan oleh para pakar pendidikan di ‘belahan bumi sana’. Bagaiamana dengan kualitas SDM guru di Indonesia? Apakah para guru telah memiliki wawasan yang utuh dan terintegrasi? Apakah guru Kimia kita juga setidaknya menguasai konsep-konsep dasar disiplin ilmu lainnya? Jika belum atau pada saatnya datang ‘tidak’, apa yang terjadi kemudian? Penulis memperkirakan, output pendidikan, dan produk serta perkembangan ilmu pengetahuan kita relatif sulit diterima dan mampu bersaing dalam konstelasi kehidupan global yang kompetitif. Terlebih lagi upaya sekularisasi ilmu pengetahuan dari para cendekiwan dan ulama ekstrim kiri dan ekstrim kanan di Indonesia masih berlanjut, hal ini pun akan menjadi batu sandungan internal untuk terciptanya budaya keilmuan dan sistem pembelajaran yang integratif dan senafas dengan isu global pendidikan.
Sukro dalam bahan presentasinya mengingatkan kita, bahwa perspektif sekuler yang mendikotomi ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah sebuah sikap ahistoris yang mengingkari fakta sejarah, wablikhusus apabila ini dilakukan oleh seorang muslim, karena jelas dalam rekaman sejarah bahwa di abad pertengahan (tahun 500 M, red) umat Islam mampu mencapai peradaban ilmu pengetahuan; saat itu banyak bermunculan ilmuan-ilmuan Islam yang berperan besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di berbagai lini pengetahuan, dan karya-karya nyata dari teori yang mereka kuasai mampu memberikan pemecahan bagi persoalan manusia. “Seperti Ibnu Haitsam, ahli Ilmu Optik, Al Khawarizmi, ahli Matematika dan Astronomi, Ar Razi, ahli Kedokteran dan Kimia, Ibnu Shina, ahli Kedokteran, Jabir Ibn Hayyan, pakar Ilmu Kimia, Ibnu Kholdun, pakar Ilmu Sosial Kemasyarakatan, dan masih banyak lagi” tulis Sukron. Ilmuan muslim tersebut adalah protoype ilmuan yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan mampu mengintegrasikannya dalam teori dan praktik.
Kompetisi Global
Sukro dalam presentasinya juga menyampaikan beberapa tuntutan dunia global yang harus dijawab oleh dunia pendidikan:
- Tuntutan kemampuan profesional
- Harga ekonomis
- Tuntutan tinggi terhadap kualitas produk
- Banyaknya pemain/pesaing (kompetitor)
- Pasar Global
- Dan daya saing tinggi
Di akhir presentasi, Sukro menawarkan paradigma yang secara teoritik dan praktik sudah dilakukan di sekolah-sekolah yang dinilai mampu menjawab tantangan global. Paradigma tersebut dapat penulis sarikan sebagai berikut:
- Sistem pendidikan yang saat ini lebih memprioritaskan kemampuan kognitif hafalan, sepatutnya diarahkan penguasaan pengetahuan dan kompetensi bidang studi.
- Sistem pendidikan yang saat ini lebih mengarahkan keterampilan mekanistik, sepatutnya diarahkan ke arah pembekalan life skill, pola pikir kreatif dan inovatif.
- Sistem pendidikan yang saat ini kurang memperhatikan nilai, sepatutnya diarahkan ke arah pembentukan sikap mulia terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan, bermoral dan beretos kerja.
- Sistem pendidikan yang saat ini kurang memperhatikan metode pembelajaran interaktif, sepatutnya diarahkan bagaimana membentuk hubungan yang interaktif, dialogis dan terbuka dalam proses belajar (dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika secara proporsional, red). Konsep student center pada tataran praktisnya belum terealisasi sebagaimana diharapkan.
Strategi kebijakan yang ditawarkan, Sukro mengutip PP19/2005 tentang Strategi Kebijakan Pendidikan;
- Proses pembelajaran diselenggarakan sedemikian rupa sehingga terasa hidup, memotivasi, interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memberikan ruang yang cukup untuk berprakarsa, kreativitas, dan kemandirian peserta didik sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik peserta didik.
- Dalam proses pembelajaran pendidikan memberikan keteladanan
- Untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif & efisien setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan, pelaksanaan, penilaian proses pembelajaran dan pengawasan yang baik.
Dibutuhkan Kemauan dan Kematangan Emosional
Untuk itu sangat dihajatkan kemauan kuat, kerja keras dan cerdas, serta tekad baja untuk bergerak ke arah perubahan yang lebih baik, dalam teori yang Prof. Gay Hendrick dan Dr. Kate Ludiman yang dikutip oleh Sukro, bahwa faktor Kemauan memiliki peran 50% dalam mempengaruhi terjadinya perubahan, baik dalam scope personal maupun komunal, 30% dipengaruhi oleh kemampuan, dan 20% sisanya dipengaruhi oleh faktor Pengetahuan. “Dalam Islam, faktor kemauan ini memang juga dinilai penting dalam menciptakan sebuah perubahan, dalam QS. Ar Ra’d ayat 11 “ Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka akan mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri “, tulis Sukro.
Klik di sini untuk mereview Piramida Faktor yang mempengaruhi perubahan.
Sukro juga mengutip pendapat Dr. Daniel Goleman, dkk tentang teori Multi Kompetensi. “Kesuksesan seseorang dewasa ini, ditentukan oleh 20 % kecerdasan intelektualnya (IQ), 50 % kematangan emosionalnya (EQ) dan 30 % Daya Tahan Kepribadian (AQ)”, papar Sukro.
Teori Goleman mengajarkan bahwa untuk mencapai kesuksesan, manusia harus memiliki kecerdasan emosional; yang oleh para pakar dipahami sebagai kemampuan untuk mampu berinterkasi dan berkontribusi baik di tengah pluralitas lingkungan.
Teori Goleman, dalam konteks pendidikan dan pengajaran juga menyiratkan pesan luhur bahwa sepatutnya kita semua, khusunya guru, harus melihat siswa dalam perspektif kemanusiaan yang holistik (menyeluruh), siswa harus dilihat sebagai makhluk Tuhan yang memiliki multi kompetensi intelektual emsional, kepribadian dan spiritual. Sementara teori Hendrick mengingatkan kita bahwa guru harus mampu mendorong setiap siswa untuk memiliki kemauan yang kuat dalam mencapai berbagai cita-cita yang ingin ia raih. Pemahaman semacam ini akan sangat berpengaruh terhadap pola pendidikan dan pembelajaran, serta pola pendekatan guru kepada siswa.
Secara akumulatif, dari keseluruhan upaya ini kita berharap akan mampu memberikan perubahan sistem pendidikan kita secara mikro dan keseluruhan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara kita secara makro ke arah yang lebih baik, sehingga pendidikan kita mampu melahirkan manusia Indonesia yang berdaya saing global, mampu berperan aktif dalam menentukan arah peradaban manusia di muka bumi, amin.

