Get Adobe Flash player

La Tansa_10 Mei 2010
Pada hari Ahad, 24 Jumadal Ula 1431 H./9 Mei 2010 M peristiwa bersejarah kembali menggema membumbung ke atas atmosfir Pondok Pesantren La Tansa. Peristiwa ini bagai magnet yang menarik perhatian banyak orang; asaatidz, santri, wali santri, alumni, keluarga besar alumni La Tansa, tamu undangan, bahkan masyarakat sekitar pesantren. Peristiwa ini tidak sebatas seremonial akbar belaka, karena menghajatkan banyak biaya dan diikuti ribuan peserta (diperkirakan lebih dari 3000 orang dan lebih dari 6000 mata merekam peristiwa ini), namun peristiwa ini syarat beribu makna, karenanya setiap bola mata yang menyaksikan seraya memaknainya dengan beribu makna pula. Peristiwa ini adalah khataman proses studi di Pondok Pondok Pesantren La Tansa bagi santri Kelas VI (XII SMA). Peristiwa ini lazim disebut Haflah at Takhrij wa Tafwiedu as Asyahadah (Seremoni Penglepasan dan Penyerahan Ijazah) atau Khutbatul Wadaa’ (Khutbah Akhir). Istilah Khutbatul Wadaa’ diadopsi dari Khutbatul Wadaa’ Rasulullah SAW yang disampaikan di Arafah menjelang wafat beliau, dalam catatan sejarah Khutbah tersebut dihadiri sekitar 144 ribu kaum Muslimin.

Di balik kebesaran haflah dan kekhidmatan prosesinya yang mengharu biru, haflah hanyalah peristiwa duniawi yang pada akhirnya ‘habis’ ditelan masa dan terkubur oleh dinamika kehidupan berikutnya. Maka yang terpenting dari hafalah adalah bagaimana memaknai haflah itu sendiri. Memaknai berarti mengeksplorasi intisari atau pesan terdalam dari haflah, memaknai berarti mengambil spirit dan motivasi untuk kemudian dijadikan ‘bahan bakar’ yang membakar semangat juang untuk melanjutkan perjalanan roda perjuangan menggapai kehidupan yang hasanah dunia dan akhirat. Pemaknaan ini sangat penting bagi kita semua, terutama bagi adik-adik alumni angkatan ke-17, Allegiances. Karena mereka adalah aktor utama dalam babak sejarah ini, mereka dalah bintang-bintang dalam adegan historis ini.

Haflah hendaknya dijadikan tonggak awal yang  mengilhami perjuangan mereka berikutnya, apapun peringkat Yudisium yang mereka dapat, berapapun akumulasi nilai rata-rata keseluruhan ujian mereka. Yang menjadi persoalan bukan apa yudisium mereka, atau angka berapa yang tertulis dalam syahadah (Ijazah) mereka, bahkan bukan pula  tangisan sedu sedan mereka yang menjadi hal penting. Yang terpenting dan direcord dalam lubuk sanubari adalah bagaimana keseluruhan peristiwa dan keseluruhan proses kehidupan di pesantren selama 4 dan 6 tahun itu mampu disikapi dan dimaknai secara baik, sehingga melahirkan ghirroh untuk berbuat yang terbaik untuk masa depan mereka. Yudisium dan angka yang tertera dalam syahadah  penilaian yang bersifat normatif-akademik dan hakikatnya belum sepenuhnya menggambarkan diri mereka yang seutuhnya. Waktu 4 dan 6 tahun terlalu singkat untuk menilai keutuhan mereka sebagai manusia yang memiliki keunikan dan kompleksitas potensi, meskipun Dewan Guru sudah berijtihad sepenuh hati dan pikiran dengan tetap menempatkan mereka sebagai manusia yang memiliki keutuhan potensi rasa, karsa dan karya dalam memberikan penilaian. Karena itu, tidak semestinya mereka mengukur diri mereka dengan ukuran normatif-akademik semata. Sebagai manusia mereka adalah makhluk yang masih berproses menuju titik kemapanan dan kesempurnaan sebagai manusia. Maka, baiknya penilaian normatif-akademik tadi dijadikan sebagai sebagai spirit agar proses kehidupan berikutnya lebih baik. Yang dinobatkan berperingkat Yudisium Syarof (Summa Cum Laude) harus mampu mengilhaminya untuk berperingkat Syarof pula di tengah-tengah keluarganya, di tempat kuliahnya, di tengah-tengah masyarakatnya, di lingkungan kerjanya, dan di seluruh lini kehidupannya. Dan yang tidak dinobatkan berperingkat Yudisium Syarof, bagaimana hal itu juga mampu mengilhaminya untuk berperingkat Syarof pula di tengah-tengah keluarganya, di tempat kuliahnya, di tengah-tengah masyarakatnya, di lingkungan kerjanya, dan di seluruh lini kehidupannya. Dengan demikian, memaknai haflah juga berarti menyikapi hasil belajar yang diperoleh dengan sikap yang positif.

Apabila penyikapan ini dilakukan oleh seluruh alumni angkatan ke-17 ini, maka akan lahir di tengah-tengah keluarga besar La Tansa, di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah bangsa ini, sebanyak 248 orang yang memiliki etos kerja dan spirit juang yang bernilai Syarof. Dan apabila diamalkan oleh seluruh alumni La Tansa La Tansa dari tahun 1994 hingga 2010, akan ada di tengah-tengah bangsa ini sebanyak 2536 anak bangsa yang memiliki etos kerja dan spirit juang yang bernilai Syarof, dan mereka adalah regenerasi bangsa yang akan mewarisi, mewarnai kehidupan bangsa ini di lima, sepuluh, duapuluh tahun yang akan datang. Amin. Dalam konteks inilah terlihat bagaimana pentingnya memaknai haflah dengan sikap dan action yang positif, La Tansa adalah memang entitas mikro dalam skala kebangsaan, namun akan berefek makro saat alumninya bergerak dan berkarya.

Beberapa bahan pemikiran sederhana coba kami sampaikan dalam tulisan singkat ini, terkait hal-hal yang diharapkan menjadi spirit bagi kawan-kawan alumni. Namun, secara umum kami sampaikan, bahwa acara sebesar haflah dan proses pendidikan yang berlangsung cukup lama dengan sekian banyak konsekuensi logisnya, teramat sayang apabila dilupakan begitu saja, hanya diingat tanpa melahirkan semangat. hal-hal yang diharapkan menjadi spirit yang dimaksud adalah:

  1. Sebagai alumni, La Tansa yang telah percaya melahirkan kita dari rahimnya, benar-benar menaruh kepercayaan besar kepada kita untuk bisa menjadi yang terbaik di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan proporsi dan kapasitas kita.
  2. Kehidupan di La Tansa adalah latihan dan pembiasaan yang membuat kita menjadi “tajam”. Bahkan, sering kali proses latihan dan pembiasaan itu menghajatkan ketahanmalangan kita dalam menjalaninya, ketahanmalangan dalam menahan rasa malas, malu, sedih, sakit, dsb. Relakah kemudian kita menjadi ‘tumpul’ akibat latihan itu kita hentikan?
  3. Begitu besar biaya dan begitu banyak waktu yang orang tua kita investasikan untuk menjalani proses latihan dan pembiasaan itu. Akankah semua itu menguap sia-sia?
  4. Guru dan Orang Tua kita, K.H. Ahmad Rifa'i Arief, allhummarhamu, dalam Khutbatul Wadaa'nya tahun 1997 (menjelang wafat) beliau berwasiat: "Anak-anakku tercinta, Kalian adalah pribadi terhormat, maka hormatilah diri kalian, menghormati diri dengan cara menempatkan diri kalian di tempat-tempat yang terhormat".

Wallaahu a'lam. JRD.

Sekretariat Pesantren La Tansa

Copyright © 2013. All Rights Reserved.